Posted in Uncategorized

Start with What You Have!

Ada satu chapter di buku ‘New Day New You’ by Joyce Meyer yang berkata: ‘There is NO point in praying to God to give you more money so you can be a blessing to others if you are not being a blessing with what you already have. Start using what you have to bless others’. Ini menohok. Sekali. Sangat. Banget.
Saya bekerja memang. Untuk usia semuda saya, single, gaji saya sih.. Pas. Pas untuk ongkos dan jajan. Dan juga buat bayar kuliah. Itu juga masih minta-minta sama Abang. Kadang sudah menabung, tapi pada akhirnya tetap terpakai juga. Entah untuk tugas, print sana-sini, untuk ojek karena harus mengejar waktu sampai di kampus agar nggak terlambat.
Saya pengguna angkutan umum, sering kali kalau ada kelas week-end, saya lebih suka menggunakan kopaja P20. Dari Cilandak langsung ke Tugu Tani, dari situ saya harus berjalan kaki lagi sampai di kampus. Saya sangat menikmati perjalanan selama menuju ke kampus, mulai dari Cilandak, Mangga Besar, lalu Pejaten, Warung Buncit, Mampang, Kuningan, hingga Menteng. Dan sepanjang jalan ini lah saya melihat hal-hal yang sangat kontras. Gedung-gedung tinggi dari kantor Kedutaan, lalu di trotoar persis di depan gedung tersebut, duduk banyak anak-anak kecil sambil membawa gitar, kecrekan (saya gatau gimana nyebut alat itu yang benar, yang saya tau orang-orang biasa menyebutnya kecrekan karena bunyi nya memang ‘crek kecrek’). Lalu ketika bus yang saya naiki berhenti di lampu merah, anak-anak itu akan berlari dengan semangat nya karena harus berebut dengan teman yang lain untuk bisa naik ke bus. Setelah naik, anak ini akan mulai menyanyi dengan lantang nya. Walau pun nada nya entah kemana-mana, tapi anak ini tetap menyanyi sambil bertepuk tangan karena anak ini tidak membawa gitar atau pun kecrekan.
Setelah selesai menyanyi, anak ini akan beredar sambil menjulurkan tangan nya yang mungil kepada penumpang-penumpang mulai dari yang duduk di depan hingga ke belakang. Tiba saat nya anak ini di tempat duduk saya. Jujur, saya tidak pernah memberi sekalipun kepada pengamen apalagi pengemis. Karena, menurut saya kalau saya memberi pengamen atau pun pengemis ini uang maka sama saja saya mendukung mereka untuk terus menjadi pengamen dan pengemis. Sampai kapan? Entah. Pemerintah juga tidak ada tindakan nyata sama sekali mengenai banyak nya pengemis dan gelandangan di kota ini.
Tau nggak, memberi itu konteks nya luaaaasss dan besaaarrr.. Banyak orang salah kira, ketika ingin membantu, mereka pasti berpikir,”Ah, nanti saja tunggu saya naik gaji. Tunggu saya banyak duit. Tunggu bonus saya keluar”. Lah, kalau saja (amit-amit sih ini yah) tiba-tiba sebelum saat nya Anda naik gaji lalu perusahaan tempat Anda bekerja collapse? Mau bilang apa?
Kembali lagi, saya hanya seorang Karyawati merangkap Mahasiswi biasa, dengan gaji pas-pas-an. Tidak ada yang bisa diharapkan dari gaji saya untuk bisa saya sisihkan membantu orang lain selain mencukupi kebutuhan saya sendiri. Seriusan. Saya ngga bohong. Tapi, tidak selamanya karena kamu punya uang kamu bisa bantu orang kan? Walau pun kamu tidak punya uang untuk bisa kamu bagi, mungkin kamu bisa lakukan hal yang lain? Seperti mungkin kamu punya kelebihan suara, kamu bisa melayani dengan suara yang kamu punya. Apakah membantu? Mungkin kamu sendiri nggak merasakan, bagian mana yang bisa dikategorikan membantu, tetapi bisa saja salah satu orang yang sedang duduk di kursi penonton terinspirasi dengan lagu & suaramu, sehingga ia bisa kembali semangat. Who knows?
Sejak saya masih di bangku Sekolah Dasar, tahun ke 6 tepatnya. Saya banyak bergaul dengan anak-anak yang lebih dewasa dari saya, seperti anak SMP kelas 3, lalu anak SMA kelas 1 sampai kelas 3. Karena sekolah saya dulu waktu di Malang, cukup lengkap mulai dari Kelompok Taman Bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Jadi, saya bisa berteman dengan kakak-kakak kelas yang jauh di atas saya. Dan mereka bahkan nggak memandang saya anak kecil πŸ˜€ malah seperti menganggap saya seumuran. Mereka sering curhat sama saya, entah mengenai keluarga, pacar, kakaknya yang sadis, atau Bapaknya yang sadis, atau tentang sahabatnya. Setiap saya pulang sekolah, pasti ada aja yang telepon mencari saya. Mulai dari si Tiffany, si Shella, si Anthony, si Raymond, si Wilson, si Yustina (aduh saya juga lupa nama-namanya), si Meme, si Andre, si Barbara, si Jessica, si Grace. Banyaklah πŸ˜€
Hehe, intinya di usia muda, saya senang bisa memberi mereka telinga dan hati saya untuk mendengar keluh kesah mereka, malah ada yang sambil nangis-nangis juga. Dan sampai sekarang masih sering beberapa dari teman-teman lama saya yang suka curhat β€”tapi kalau sekarang sudah nggak telfon lagi, tapi via bbm chatting.

Jadi kata-kata Joyce Meyer dalam buku ‘New Day New You’-nya itu sangat benar! Kamu tidak perlu punya banyak uang untuk bisa membantu atau menjadi berkat bagi orang lain. Start with what you have πŸ˜€ karena apa gunanya meminta Tuhan untuk memberi kamu banyak uang supaya bisa menjadi berkat, kalau dengan apa yang kamu punya sekarang saja kamu tidak bisa menjadi berkat?

Be blessed! Be happy!
Stay young! Stay normal πŸ˜€

Agnesia, xo
19062012

Advertisements

Author:

Simply blessed by God's love.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s